Sudah lama Begawan tidak berjalan menyusuri pantai. Sore itu, Begawan sengaja menyempatkan diri untuk beberapa waktu mengunjungi pantai selatan. Dia teringat akan masa kecilnya yang lebih banyak dihabiskan di pantai. Bermain bersama pasir dan riak air, berenang hingga kejauhan dan tergulung ombak, atau sesekali berperahu melawan arus menuju tengah lautan.
Sang Guru berjalan menyusuri pantai, terasa desiran angin perlahan-lahan meliputi tubuhnya dan membuat jubahnya tampak berkibar-kibar.
Di kejauhan, terlihat ada seorang pemuda yang sedang merenung. Terlihat kemuraman di wajahnya dan gundah yang meliputi dirinya.
Begawan perlahan mendekatinya, lalu dipegangnya bahu sang pemuda.
“Wahai anak muda..apa yang sedang kau pikirkan?”
Pemuda itu menoleh..tampak oleh Begawan bahwa ada sesuatu yang mengganjal hati si pemuda.
Dalam hati, pemuda itu bertanya siapa gerangan orang ini. Dilihatnya sosok yang tua tapi teduh dan bijaksana telah berdiri di sampingnya. Aura kelembutan memancar dari mata sang guru dan memberikan ketentraman bagi siapapun yang melihatnya. Tampaklah oleh sang pemuda bahwa Mahaguru yang berada di sampingnya.
“Ah, tidak Guru..” Jawab pemuda
“Anak muda, puluhan tahun aku hidup di dunia ini dan sudah banyak pemuda yang tumbuh dalam lingkunganku. Detik-detik yang mereka lalui bersamaku hingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang dewasa telah mengajarkanku banyak hal tentang liku-liku anak muda. Aku sangat mengetahui bahwa sesungguhnya engkau sedang memendam sesuatu.”
…Hening.. tidak ada jawaban dari pemuda.
Debur ombak semakin kencang pertanda arus pasang telah mulai naik. Sesekali terdengar deburan air menabrak bebatuan.
“Anak muda, lihatlah lautan di depan sana. Itulah masa depanmu. Luas dan dalamnya samudra kan kau arungi laksana kehidupan ini. Bila kau tetap seperti ini, niscaya kau akan terseret ombak pasang dan terombang-ambing dalam galaunya dunia. Sampaikanlah padaku apa kerisauanmu, Nak.”
Terlihat burung-burung telah mulai menjauhi lautan dan terbang menuju daratan. Waktunya burung-burung itu untuk kembali kepada kehangatan keluarga setelah seharian mencari makanan.
Sang pemuda menghela napas…Dia pun bergumam
“Guru, aku baru saja menghadapi cobaan dalam hidupku..”
“Aku ingin meminang seorang gadis yang hatiku telah tertambat kepadanya, akan tetapi…”
Si pemuda menghentikan ucapannya, kembali dia berpaling memandang lautan..tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, sepertinya dia menahan perasaan yang begitu mendalam.
Begawan pun duduk merapat ke si pemuda dan dia turut melemparkan pandangannya ke lautan yang luas.
“Apa yang membuatmu risau, anakku?” tanyanya memecah kesunyian.
Lagi-lagi sang pemuda menghela nafas “Guru, lautan luas telah memisahkan kita, dirinya telah dibawa pergi oleh takdir dan kelak seseorang akan mempersuntingnya.”
Sang Guru tersenyum..di dalam hatinya dia berkata “Inilah masalah klasik muda-mudi sepanjang jaman”.
Dirangkulnya anak muda itu, sebagaimana seorang ayah memeluk anaknya, dilingkarkan tangannya di bahu anak muda seakan mengalirkan energi positif melalui rengkuhan tangannya yang hangat.
Begawan berkata “Anak muda, cobalah kau lihat sekeliling pantai ini. Hal apa saja yang dapat kau lihat di pantai yang menghampar luas ini?”
Pemuda itu mengangkat kepalanya, diputarnya kepalanya dari kanan ke kiri, lalu dia menjawab, “Aku melihat hamparan pasir putih di tepian lautan luas”.
Sang Guru kemudian mengambil seonggok pasir putih dan mengepalkannya dengan tangannya.
“Ambillah pasir putih dengan tanganmu, Nak. Sentuhlah pasir itu dan rasakan bulir-bulirnya”
Tangan kanan pemuda itu meraih sejumput pasir putih dan dengan tangannya yang lain dirasakannya bulir-bulir pasir tersebut.
“Pernahkan engkau merasakan betapa lembutnya bulir-bulir pasir itu?”
“Tidak, Guru” Jawab si Pemuda.” Aku sering memegang pasir, tapi tidak pernah aku merasakan betapa putih dan lembutnya pasir-pasir ini”
“Itulah dirimu anak muda. Dirimu adalah pasir putih itu. Hanya orang-orang tertentu yang dapat mengenali betapa putih dan lembutnya hatimu, apabila mereka membuka dirinya dan merasakannya”
“Bagi sebagian orang, dirimu adalah hanyalah pasir biasa. Akan tetapi, dirimu bukanlah pasir biasa. Hanya yang dapat menangkap kesan khusus di dalam dirimu yang dapat merasakan bulir-bulir kelembutanmu.”
“Pasir-pasir itu adalah kebajikan yang ada di dalam dirimu. Mereka tersebar luas memenuhi ruang alam ini”
“Lihatlah ke lautan luas disana”.. Begawan mengangkat tangannya dan seiring menunjuk ke arah lautan.
“Pernahkan kau melihat kerang mutiara, anakku?”
Pemuda menjawab ” Pernah Guru, kerang tersebut di dalamnya terdapat sebutir batu yang sangat indah,..mutiara”
“Betul anakku. Itulah kerang mutiara.”
“Sesungguhnya mutiara itu tercipta akibat adanya perpaduan antara kerang dan pasir-pasir yang masuk ke dalam kerang itu”
“Kerang hanya akan menjadi kerang biasa, dan pasir jua akan menjadi pasir biasa. Akan tetapi perpaduan di antara keduanya menjadikannya sebuah keindahan, itulah MUTIARA”
“Temukan kerang-kerang itu anak muda!”
“Luasnya lautan adalah tempatmu untuk menyemai kebajikan laksana pasir-pasir putih itu”
“Bila pasir itu tetap berada di pantai, maka dia akan tetap menjadi pasir. Tapi bila pasir itu berani menempuh tantangan mengarungi lautan luas dan mencari kerang, sosok pasangan hidupnya, maka kelak pasir itu akan menemukannya.”
“Bersama antara keduanya, pasir dan kerang, mereka akan bersatu, memadu kasih mereka, dan menghasilkan mutiara-mutiara yang indah yang tak ternilai harganya”
“Bawalah takdirmu membawamu ke suatu tempat dimana kau akan menemui kerang mutiara itu, lupakanlah masa yang telah lalu, hempaskan masa lalumu bersama angin laut dan sungguh masa depanmu ada pada kehendakmu dan perjuanganmu.”
“Tetaplah senantiasa berdoa kepada Yang memiliki takdir agar kelak kau menemukan pasangan hidup yang terbaik bagi dirimu”
Sang pemuda tersenyum, betapa perkataan Sang Guru tadi bagaikan air sejuk di tengah sahara yang seakan menyirami kekeringan hatinya pada saat itu.
“Guru benar, sungguh aku terlarut dalam kesedihan yang tak bermakna. Guru telah membuka pintu ruang kesadaran di dalam diriku ini tentang arti masa depan dan kehidupan.”
“Terima kasih Guru,… jika engkau memperbolehkan, apakah aku dapat turut bersamamu untuk menelusuri kehidupan ini?”
Begawan tersenyum mendengarkan jawaban anak muda di depannya itu.
“Anak muda, baiklah… ikutlah denganku. Sampaikanlah hormat dan takzimmu kepada kedua orang tuamu, mintalah restu kepada keduanya karena kelak engkau akan menemukan tantangan dan cobaan yang lebih berat bersamaku. Kelak kau akan menjadi seseorang yang berguna bagi masyarakatmu, jangan kau lupakan itu”
Sang Pemuda tersenyum, semburat mega jingga telah menutupi langit di petang itu pertanda malam kan segera tiba. Bintang-bintang pun mulai memancarkan cahayanya.
Begitu pula di dalam diri pemuda itu telah tumbuh seberkas cahaya yang menyinari dirinya. Cahaya yang membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Hari-hari ke depan adalah hari-hari yang akan dijalaninya dengan optimis dan kelak dia yakin akan menemukan apa yang dia cari.(oshi)
-08 Mei 2007-
I hope you can find your pearl someday
I love you.
oshi… puitis sekali….. mmm…
eh blognya ku link ya…